Digital – Analog

WA8 Photobucket

01. DAC (Digital)

(Digital-to Analog Converter = mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog)

Setiap file audio yang terdapat di perangkat digital (smartphone, DAP, Computer) tidak bisa langsung didengar oleh telinga, sinyal digital tersebut harus diubah dulu menjadi analog. Inilah tugas sebuah DAC.

Selain itu, DAC juga menentukan jenis file yang bisa dibaca di sebuah perangkat audio:

  • Bit Rate = 16 / 24 / 32-bit
  • Sample Rate = 44.1 kHz – 192 kHz
  • Format File = WAV, AIFF, FLAC, ALAC, MP3, AAC, APE, WMA, OGG, DFF, DSF
  • DSD Native / DoP (DSD over PCM) = DSD 64 (2.8 MHz) / DSD 128 (5.6 MHz)

Contoh : Kalau sebuah DAC hanya mampu membaca file audio 16-bit / 44.1 kHz, maka file yang ‘compatible’ dengan DAC tersebut hanya MP3 atau WAV. Jika kita masukkan file audio 24-bit / 192 kHz (FLAC), dapat dipastikan kalau file tersebut tidak akan terbaca sama sekali (tidak dapat dimainkan).

DAC memiliki berbagai macam Input Digital, seperti : USB, AES/ EBU, SPDIF, Optical/ Toslink

DAC berperan penting dalam memproduksi suara, namun sebuah DAC tidaklah bekerja sendiri melainkan bekerjasama dengan Amplifier dan banyak komponen lainnya.

Idealnya, agar Kualitas Suara yang dihasilkan bisa optimal, inilah yang mesti diperhatikan:

File Audio (Lossless)DAC → Amplifier → Headphone / IEM

Urutan di atas bukan untuk menunjukkan peringkat (mana yang terutama) karena semuanya sama-sama penting.

02. File Audio

File Audio adalah poin yang sangat penting dan vital, yang mungkin sering terlupakan.

Ada dua macam file audio :

  • Lossy (MP3, AAC)

File ini dikompres dan membuang banyak data, sehingga kualitasnya menurun.

Ukuran file-nya antara 4 – 7 MB per lagu.

  • Lossless (AIFF, ALAC, WAV, FLAC, DSD)

Dikompres, namun tetap mempertahankan jumlah data yang ada. Ukuran file-nya antara 50 – 100 MB per lagu, sedangkan DSD > 100 MB. Bahkan ada juga WAV yang ber-ukuran hingga 300 MB per lagu-nya.

AIFF dan ALAC dibuat eksklusif untuk pengguna iDevice, sedangkan WAV dan FLAC lebih user friendly (bisa dipakai di Windows, Android Smartphone, dan DAP)

Catatan : DAP yang beredar di pasaran saat ini, rata-rata sudah bisa memainkan AIFF dan ALAC

Perbandingan Lossy dan Lossless

Jika kita anggap Lossy music adalah VCD / DVD, maka Lossless music adalah Blue Ray.

Blue-Ray dengan jumlah data yang jauh lebih besar, menghasilkan gambar yang lebih berkualitas dan resolusi yang bagus, dibandingkan sebuah DVD.

Perumpamaan ini juga berlaku di dunia Audio. Jumlah data yang ada, sebanding dengan kualitas suara yang dikeluarkan.

Pengalaman saya, banyak Lossy music yang ‘tonal’ dan ‘placing’-nya tidak rapi. Bahkan di beberapa file, ‘peak’ di sana-sini nya terdengar dengan sangat jelas IMO.

DSD Native atau DSD over PCM

Native atau DoP, belum tentu bisa dibedakan kualitas suaranya IMHO. Bukan berarti tidak ada bedanya, namun perbedaannya bisa jadi tidak terdengar signifikan di telinga kita. Karena itu, bagi saya fitur Native DSD bukanlah prioritas utama yang harus ada di sebuah DAC. Walau demikian, dengan adanya fitur Native ini, kita merasa lebih yakin bahwa file yang dimainkan tidak mengalami ‘penurunan’ kualitas menjadi FLAC (DoP).

Download dan Ripping

Lossless music bisa dibeli langsung di www.hdtracks.com , http://www.alllossless.net atau www.qobuz.com/ie-en/discover

Disana kita bisa membeli album penyanyi favorit kita, dan memilih format Lossless yang kita inginkan (AIFF, ALAC, WAV, FLAC, DSD).

Selain dapat dibeli secara online, Lossless music juga bisa diperoleh dengan me-rip CD, yang hasil nya berupa WAV.

Kualitas ‘bahan baku’ pasti mempengaruhi Kualitas makanan yang dihasilkan .. begitu juga di Personal Audio

03. Amplifier (Analog)

(‘to amplify’ = memperkuat sinyal analog)

Bukan untuk menaikkan volume suara saja, ampli juga meningkatkan Kualitas Suara :

  • Tekstur bass jadi lebih bagus
  • Suara terdengar lebih solid, dinamis
  • Vocal lebih mengalun (lush)
  • dan lain-lain

Hal inilah yang membuat teman-teman penggemar Personal Audio, menambahkan ampli pada setup mereka.

Input yang terdapat di Ampli : Line In.

Ampli bisa dipasangkan dengan CD Player, Smartphone, DAC, ataupun DAP.

Beberapa Jenis Amplifier, dilihat dari :

a. Topologi dan Karakter Suaranya

Electrostatic

Hanya bisa dipakai oleh headphone Electrostatic, misalnya : Stax SR-L300, SR-L500, SR-L700, SR-007, SR-009

Karakter suara (tonal) headphone dan ampli Electrostatic umumnya Airy, Sound Stage luas, namun agak kurang di frekuensi ‘Low’ nya.

Solid State (menggunakan Transistor)

Warm, cukup agresif dan ‘pace-nya’ cepat. Banyak ampli Solid State yang bersuara clear, bahkan bright.

Tube (menggunakan Tabung)

Warm, Vocal yang mengalun (Mellow, Lush, atau basah). Ciri khas lainnya dari Tube amplifier adalah Sound Stage yang luas, dan Mid yang tebal.

Ampli Tube sangat cocok dipakai untuk menikmati lagu Audiophile (Vocal), Jazz, dan Akustik.

Kelebihan Tube Amplifier = Tube-Rolling

Hanya dengan mengganti tube nya saja, sebuah Tube amp bisa mengeluarkan suara ‘baru’ yang tidak sama dengan suara sebelumnya.

Namun perlu diketahui, kalau setiap Brand memiliki keterbatasan-nya sendiri mengenai ‘tube-rolling’ ini, misalnya : Tube Amplifier produksi Brand X hanya bisa dipakai dengan 3 jenis tube saja, sedangkan produksi Brand Y bisa dipakai sampai dengan 9 macam tube yang berbeda, dst.

  • Tube yang sama jenisnya namun berbeda merk, biasanya memiliki karakter suara yang berlainan pula, contoh : Sophia Princess 274B dan Takatsuki 274B

‘Tube-Rolling’ merupakan salah satu keunggulan Tube amp dibanding ampli jenis lainnya (sebuah tube bisa dipakai selama ribuan jam, kurang lebih antara 3000 – 5000 jam).

b. Power Outputnya

Power Output menentukan Kualitas Suara dari Headphone / IEM yang dipakai, makin bagus power-nya akan makin berkualitas suara yang dikeluarkan.

Desktop Amp menghasilkan Power Output dan suara yang lebih ‘besar’ dibanding Portable Amp.

Rata-rata IEM yang ada di pasaran ber-impedans kecil, sehingga cukup memakai Portable Amp saja.

Lain halnya dengan Headphone, ada banyak tipe Headphone yang ‘haus’ daya, sehingga harus ditunjang dengan power output yang memadai agar Kualitas Suaranya optimal, contoh :

Headphone Dynamic Driver = 70, 80, 250, 300 ohm

Headphone Planar Magnetic = 20, 30, 32, 50, 110, 200 ohm

Walaupun memiliki nominal ohm yang relatif kecil, kebanyakan headphone Planar termasuk ‘power hungry’.

Butuh Power yang bagus supaya tonal dan ‘potensi’ sebuah Headphone Planar betul-betul keluar.

Headphone Tesla Series = 32 – 600 ohm

c. Dimensi / Ukurannya

Portable Headphone Amp (Praktis dan Mobile)

  • Ukurannya kecil, sehingga bisa dibawa kemana-mana
  • Dioperasikan dengan Baterai
  • Biasanya dipasangkan dengan IEM (In-Ear Monitor) / Headphone tertentu yang ber-impedans rendah, sedang, ataupun tinggi
  • Sangat cocok bagi teman-teman yang aktivitasnya ”mobile”

Desktop Headphone Amp (Besar dan Powerful)

  • Ukurannya cukup besar, sehingga tidak bisa dibawa kemana-mana
  • Dioperasikan menggunakan Kabel Power (dihubungkan ke colokan listrik)
  • Seringkali dipasangkan dengan Headphone, walaupun bisa juga dipakai untuk IEM
  • Banyak dipakai di kantor atau di rumah

Faktor yang Menentukan Kualitas Amplifier

Untuk menghasilkan Suara yang Berkualitas, selain ‘tuning’ ada 2 hal yang berperanan sangat penting :

  • Komponen yang digunakan
  • Power Output yang dihasilkan

Dari sini terlihat, kalau Desktop Amp memiliki ‘authority’ lebih dibanding Portable Amp.

Namun ada satu ‘kendala’, yaitu Dekstop Amp tidak bisa dibawa kemana-mana.

Bagaimana jika terjadi yang sebaliknya .. Semua kualitas yang ada di sebuah Desktop Amp masih terdapat disana, namun dengan ukuran yang lebih kecil, serta bobot yang jauh lebih ringan.

Inovasi Baru

  • Menggunakan komponen yang bagus (casing dan spareparts berkualitas tinggi)
  • Power Output yang powerful untuk Headphone ber-impedans tinggi (kami sudah mencobanya dengan Hifiman HE-560, Sennheiser HD800, Audeze LCD-2, Fostex TH-X00, Mr.Speakers Ether dan Flow, Focal Elear, dll)
  • Nyaman dan Fleksibel karena tidak ‘overpowered’ untuk IEM. Background bersih, tidak ada ‘hiss’ sama sekali (telah kami pasangkan dengan berbagai IEM, bahkan IEM FitEar yang sensitivitasnya cukup tinggi-pun tidak mengeluarkan noise di Amp ini)
  • Kualitas Suara yang dihasilkan pun tetap mumpuni, se-level dengan Desktop amp

Adalah Woo Audio, perusahaan pembuat Tube Headphone Amplifier dari USA, yang membuat ide di atas menjadi kenyataan melalui WA8 Eclipse.

Powerful + Mobile = Transportable

  • All-Tube design (bukan hybrid).
  • Amplifier Class-A (ada Transformer di dalamnya).
  • Ditambahkan sebuah Reference DAC di dalamnya, sehingga WA8 bisa dipasangkan dengan Computer (Mac, PC) smartphone, ataupun gadget (Android dan iDevices). Bisa memainkan file hingga 24-bit/ 384 kHz.
  • Transportable = berukuran jauh lebih compact dibanding Desktop amp, sehingga bisa dibawa kemanapun : kantor, rumah (ruang tamu, kamar tidur), cafe, hotel, dll.
  • Dioperasikan dengan Re-Chargable Battery (Lithium-ion), dan tetap bisa dipakai saat sedang dicharge.
  • dan semua kelebihan lain yang tertera di poin sebelumnya (Komponen, Power, Suara yang Berkualitas, Nyaman (Convenient) buat IEM).

Link : www.wooaudio.com/products/wa8eclipse.html

04. Standard Tinggi

Woo Audio betul-betul menjaga kualitas craftmanship-nya :

a. Point-to Point Wiring

Semua Desktop Amp Woo Audio diciptakan menggunakan desain ‘Point-to Point Wiring’ dan ‘All Tubes’ (tidak memakai semi konduktor di seluruh sirkuitnya).

b. Handcrafted

Bukan hanya desktop amp-nya saja, Transportable Tube DAC Amp WA8 Eclipse juga dibuat dengan tangan.

Woo Audio dibuat di New York, USA.

c. Teknologi

Berikut ini beberapa contoh penerapan teknologi ber-standar tinggi oleh Woo Audio :

  • WA-234 Mono

Mono Block pertama untuk Headphone dan Speaker dengan fitur Tube Switching Key (TSK) dan Output Switching Key (OSK). Berbagai tube yang berbeda bisa dipasang sekaligus, kemudian untuk memilih tube mana yang ingin kita dengarkan suaranya, cukup dengan menggunakan satu switch saja

  • WA5 dan WA5-LE

Ampli Triode Class-A untuk Headphone dan Speaker. Menggunakan Jensen caps, Black Gate bypass caps, V-cap input, WBT Nextgen di input dan outputnya. WA5 versi 2, diproduksi sejak September 2015. WA5 v2 ini memiliki tiga fitur tambahan yang tidak terdapat di versi sebelumnya, yaitu : Knob ‘POWER’ (Speaker = hanya bisa dipakai di WA5 saja, Hi = power output 8 Watt/ Channel, Lo = power output 1.5 Watt/ Channel); Toggle ‘IMPEDANCE’= Hi (untuk headphone >100 Ohm) Lo (untuk headphone <100 Ohm); Toggle ‘LEVEL’ = Lo (melepaskan hanya 50% saja dari input) Hi (melepaskan seluruhnya), tweaking dapat disesuaikan dengan sensitivitas headphone yang kita punya

  • WA33 Fully Balanced Tube Amp (dirilis di Canjam SoCal 8 – 9 April 2017)

Empat Power Tube (2A3), Empat Driver, dan Satu Rectifier. Amp dan PSU terpisah, untuk menghasilkan Power Output yang sangat mumpuni (untuk headphone, hingga 10 Watt/ Channel). Tidak heran, kalau prototype-nya saja sudah mampu membuat headphone Abyss ‘bernyanyi’. WA33 adalah Ampli headphone pertama yang memakai 2A3 sebagai Power tube-nya, apalagi tube amplifier ini didesain fully-balanced. Saya kira, ini merupakan suatu bukti (lagi) keseriusan Woo Audio dalam menghasilkan audio gear yang berkualitas

  • WA7 Fireflies 2nd Gen

RCA-nya bisa berfungsi baik sebagai input (dari Smartphone, DAP) maupun sebagai output (bisa dipakai DAC-nya saja, sehingga bisa dipasangkan dengan Ampli eksternal apapun). Desain yang elegan (sama sekali tidak ada baut yang terlihat dari luar). Menggunakan Teflon Socket, High-Retention USB, dan Reference DAC yang sama dengan WA8 Eclipse

  • WEE

Kita tahu kalau Headphone Electostatic harus dipasangkan dengan Ampli Electrostatic juga. Kadangkala, hal ini seperti ‘membatasi’ pilihan amplifier yang bisa kita gunakan dengan Headphone (Electrostatic) yang kita miliki. Disinilah, WEE berperan sangat penting. WEE adalah voltage converter, WEE mengubah output yang dikeluarkan oleh Ampli Speaker untuk kemudian dipakai ‘mengangkat’ headphone Electrostatic. Singkatnya .. dengan bantuan WEE, Ampli Speaker juga bisa dipasangkan dengan headphone Electrostatic (yang connector-nya memakai 5-pin). Tentunya setiap fitur yang ada di Ampli Speaker tersebut (Bass Boost, Treble Boost, dll) masih bisa digunakan seperti biasanya 🙂

* Catatan : Setidaknya dibutuhkan Ampli Speaker dengan Power Output sebesar 3 Watt, untuk bisa ‘mengangkat’ sebuah Headphone Electrostatic

d. Quality Control

WA8 Eclipse dirilis setelah Woo Audio melakukan riset selama kurang lebih 3 tahun.

Tube yang akan dipasang di WA8 Eclipse, pasti sudah dites terlebih dahulu .. setiap tube yang tidak lolos tes, akan langsung dibuang ke tempat sampah (post tentang ini bisa dilihat di Facebook dan Instagram Analog Head).

Woo Audio hanya mengirimkan produk audio terpilih ke tangan kita.

e. Compatible Tubes

Woo Audio memiliki cukup banyak tipe tube yang bisa digunakan pada Tube Amplifier-nya, contoh : WA3 (Power maupun Driver-nya bisa menggunakan masing-masing 9 jenis tube yang berbeda), WA6 (>10 jenis untuk tube Power, dan >15 jenis tube Rectifier-nya), WA6-SE (7 jenis tube Power, dan 20 jenis tube Rectifier).

f. Rare Tubes

Makin bagus tube yang dipakai, makin bagus pula performa sebuah Tube Amp.

Ada beberapa tube buatan zaman dahulu yang sudah discontinued (tidak diproduksi lagi), namun masih tersedia stock barunya (NOS = New Old Stock).

Contoh beberapa Tube yang berkualitas sangat baik, bahkan beberapa di antaranya merupakan Tube yang langka :

  • Sophia Princess Mesh Plate
  • Sophia Princess Black Base
  • Electro Harmonix
  • Sylvania
  • KR (dari Czech Republic)
  • Tung Sol
  • Takatsuki (Jepang), dll

g. Desain

Desain yang ‘sturdy’ (kuat), bagus, dan tahan lama, menjadikan Woo Audio memiliki banyak penggemar  di komunitas ‘Personal Audio’.

Ada Tube Amplifier yang bodi-nya cukup mudah berkarat, tidak demikian dengan Woo Audio (demo Woo Audio di Analog Head, umurnya sudah >3,5 tahun, namun masih memiliki performa dan penampilan yang bagus IMHO).

Final Tips :

  • Perhatikan betul-betul file audio yang kita pakai. Jadikan Lossless music sebagai pilihan utama, dan hindari upsampling
  • Luangkan waktu untuk mendengar langsung Amplifier yang ada. Sebaiknya bawa sendiri IEM, headphone, dan lagu kita (dalam micro SD) untuk memudahkan mengenali suara sebuah amplifier
  • Bila belum ada kesempatan mencoba sendiri, bacalah sebanyak mungkin review yang ada, atau berdiskusilah dengan teman yang pendapatnya bisa dipercaya
  • Ampli yang tepat bisa meningkatkan Kualitas Suara dengan signifikan
  • Kalau melihat ampli dengan tabung, pastikan apakah desain (topology) nya full tube ataukah hybrid
  • Pada akhirnya, percayalah kepada telinga kita sendiri

Seandainya ada pertanyaan,”Haruskah saya memakai ampli?”

Meskipun jawaban setiap orang bisa berbeda, namun kalau ada peluang untuk memperoleh suara yang lebih bagus dengan menambahkan sebuah amplifier .. kenapa tidak dicoba ? 🙂

Akhir kata, saya sangat yakin kalau Transportable Amp bisa ‘mengubah’ perilaku dan kebiasaan kita dalam menikmati musik (Transportable = small size BIG Sound ..)

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Happy Weekend Folks!

Kenali selera kita sendiri (suara seperti apa yang kita suka), kemudian tentukan ampli mana yang sesuai dengan selera kita tersebut”

– Hengky Irawan –

http://www.analoghead.com

http://www.instagram.com/analoghead_id

https://www.facebook.com/AnalogHeadStore/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s