Hype, Review, Headphone

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

01. Hype

Mungkin beberapa di antara kita sering mendengar kalimat, yang bunyinya seperti ini :

“Tahu DAC Amp tipe Z nggak? Hype-nya bagus banget nih! Pasti suaranya keren”

“Temen saya bilang headphone tipe X bagus banget, tapi kok nggak ada hype-nya .. beneran bagus atau nggak sih?”

“Kalau SQ nya betul-betul bagus, seharusnya nge-hype dong.” dst ..

Di sini sangat jelas terlihat, kalau kualitas sebuah audio gear seringkali dihubungkan dengan ada atau tidaknya Hype.

Perlu kita ingat bahwa, Hype adalah kegiatan marketing. Apakah yang ditawarkan berupa makanan, kendaraan, gadget, film, audio gear, dll. Bidang jasa-pun juga tidak luput dari kegiatan promosional seperti ini.

Hype adalah hal yang sangat wajar untuk dilakukan oleh siapapun juga, namun apakah Hype bisa dijadikan sebagai acuan yang akurat terhadap kualitas sebuah audio gear?

Mari kita lihat bersama – sama. ada empat jenis Hype:

a. Hype

  • karena barangnya bagus
  • walaupun barangnya kurang bagus

b. Tidak Hype

  • karena barangnya kurang bagus
  • walaupun barangnya bagus

Makin gencar pemasaran-nya, makin nge-Hype pula produk atau jasanya.

Pengaruh Hype di Personal Audio

  • Akan menentukan, seberapa sering sebuah audio gear dibahas online (media sosial), dan offline (di kalangan penggemar Personal Audio)
  • Mempengaruhi seberapa ‘menarik’ gear tersebut untuk direview. Makin nge-Hype beritanya, makin banyak pula review-nya.

Review / Impresi

Adalah, kegiatan ‘menilai’ sebuah audio gear.

Tujuannya, agar kita bisa memperkirakan bagaimana Sound Sig dan SQ audio gear tersebut.

Review bisa dibagikan baik secara online (di website, blog, facebook page, forum, dll), maupun offline (dibahas pada saat ada meet, gathering, event audio, dll).

Saya pribadi, lebih suka mendengar sendiri dibanding membaca review.
Kalaupun harus membaca, saya mempunyai beberapa reviewer ‘favorit’.

Pengalaman pribadi kita (mendengar langsung sebuah audio gear) jauh lebih signifikan, dibanding membaca review IMO. Karena kita sendiri-lah yang nantinya memakai audio gear tersebut, bukan orang lain.

Dari sini dapat kita simpulkan, kalau kualitas sebuah audio gear tidak serta merta ditentukan oleh Hype maupun Review yang ada.

Yang terpenting adalah kualitas suaranya.

02.Headphone

Sesuai dengan jenis drivernya, Headphone terbagi menjadi 3 :

Dynamic Driver (Moving Coil)

Sebagian besar headphone yang kita lihat di pasaran, memakai teknologi dynamic driver ini. Gerakan maju mundurnya (sama seperti gerakan conus speaker) akan meng-kompres dan de-kompres udara, sehingga menghasilkan suara.

Planar Magnetic (Isodynamic)

Pemakaian teknologi Planar pada headphone belum se-”populer” Dynamic Driver. Beberapa penggemar audio ‘lama’ lebih mengenalnya dengan istilah Orthodynamic (dipopulerkan oleh Yamaha). Planar tidak memakai voice coil, melainkan menggunakan medan magnet dan membran tipis (yang ukurannya lebih besar dari voice coil).

Electrostatic

Kalau headphone Dynamic Driver dan Planar menggunakan medan magnet untuk menggerakkan diafragma drivernya, headphone Electrostatic mempunyai cara kerja yang berbeda. Diafragma-nya bergetar karena dialiri listrik. Diafragma Electrostatic sendiri, terbuat dari bahan yang sangat tipis (biasanya ketebalannya hanya beberapa micron saja), bahkan 10 – 20 x lebih tipis dari kantung plastik.

Secara sederhana, kalau Dynamic Driver dan Planar bekerja karena ada medan magnet, Electrostatic karena medan listrik.

Voltage dan daya yang dibutuhkan untuk ‘mengangkat’ headphone ini cukup tinggi, sehingga biasanya Brand yang merilis headphone Electrostatic juga membikin ampli electrostatic sebagai pasangannya.

(alternatif lain-nya : headphone Stax yang memakai connector 5-pin bisa dipasangkan ke Ampli Speaker dan Woo Audio WEE. Info lebih lengkapnya bisa teman-teman lihat di artikel ‘Digital – Analog’)

Headphone Electrostatic mempunyai timbre yang sangat bagus, terutama dalam menghasilkan suara violin IMO.

Bigger Sound atau Flexibility ?

Pertanyaan lain, yang juga cukup banyak diajukan oleh teman-teman audio adalah, “sebaiknya memilih Headphone atau IEM?”

Secara spesifikasi, diameter driver headphone jelas jauh lebih besar dibanding IEM sehingga suaranya pasti lebih powerful (power yang mumpuni juga berperanan terhadap SQ yang dihasilkan).

Namun, performa IEM juga tidak bisa dipandang sebelah mata, walau driver-nya kecil tapi sanggup mem-produksi suara yang sangat bagus.

Selain itu, letak IEM yang berada di dalam telinga tentu menghasilkan presentasi yang berbeda dibanding headphone yang posisinya di depan telinga.

Saya kira, IEM sangat cocok dipakai saat kita sedang mobile (outdoor) tapi ketika berada di rumah atau di kantor beralih menggunakan Headphone.

* Catatan : Pada level yang sama, Kualitas Suara Flagship Headphone masih lebih bagus dibanding Flagship IEM

03. Typical Suara

Mayoritas tuning suara audio gear, adalah :

Analytical

  • Umumnya frekuensi treble maupun upper-mid nya cukup dominan
  • Suara yang sangat detil / sangat teknikal
  • Seringkali suara analytical bisa terdengar ‘kurang’ musical

Musical

  • Biasanya yang agak dominan adalah frekuensi mid sampai low
  • Suaranya empuk, dengan bodi suara yang cukup
  • Kadangkala suara yang musical detilnya bisa terasa agak kurang sparkle

Kedua tipikal suara ini sepertinya ‘berlawanan’, namun kalau bisa ‘digabungkan’ (saya rasa) tentunya akan sangat menarik.

Bayangkan, sebuah suara yang musical dengan detil yang kaya (tapi tidak over-teknikal).

All-rounder (Analytical x Musical)

Suara ini memadukan elemen-elemen penting dari kedua suara di atas :

  • Low = kualitas dan impact bass bagus (tapi tidak mendem)
  • Mid = ber-bodi tapi masih airy, vocal mengalun enak
  • High = detail instrumen bagus (cukup extend, tapi sama sekali tidak harsh)

Tidak banyak Brand yang men-tuning flagship audio gear-nya dengan suara seperti ini, mungkin karena membuat audio gear dengan suara All-rounder yang ‘proper’ tidaklah mudah.

04. Flagship / TOTL (Top of The Line)

Saya kira, setiap flagship gear mewakili ‘pencapaian’ sebuah Brand. Apakah itu IEM, Amplifier, DAC, DAP, ataupun Headphone.

Kalau kita berbicara tentang headphone, salah satu Brand yang (saya pikir) berhasil men-tuning tipikal suara All-rounder (dengan sangat baik) pada flagship-nya adalah, Kennerton.

Kennerton Odin tidak hanya menghasilkan suara yang bagus, tetapi juga unik IMHO.

Unique Attributes

Perusahaan dari Rusia ini mempunyai dua Headphone unggulan, yaitu Odin dan Vali.

Sound Sig Vali mirip dengan HD650 (warm, empuk, mengalun) tapi dengan tekstur dan resolusi suara yang jauh lebih baik. Buat teman-teman yang menyukai karakter suara HD650, dan sedang mencari versi upgrade-nya, cobalah meluangkan waktu untuk mendengarkan suara Kennerton Vali.

Kalau Vali adalah headphone dynamic driver, Odin merupakan headphone planar.

Odin mempunyai keunikan yang mudah dikenali :

a. Versatile (versatile = cakap dalam berbagai hal, serbaguna)

  • All-rounder, balance, musically engaging, rich
  • Resolusi dan Transparansi yang sangat baik
  • Tonal density-nya pas (suaranya berbobot. Tidak terlalu tebal, sekaligus sangat jauh dari kesan tipis)
  • Tidak mendem, tapi juga bukan bright (secara teori Sound Sig-nya bisa disebut warm, tapi sangat berbeda dibanding kebanyakan headphone warm yang pernah saya dengar)

Perpaduan unsur-unsur inilah yang membuat Odin ‘pantas’ disebut versatile (cakupan genre yang bisa dimainkan dengan sangat baik oleh Odin, sangatlah luas) IMHO.

Selain suara, tentunya ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan juga

b. Efisiensi Tinggi

Headphone Planar yang impedance-nya 50 ohm membutuhkan power yang bagus untuk ‘mengangkatnya’, apalagi Planar dengan impedance 100 ohm (atau lebih), pasti makin susah ‘diangkat’.

Makin haus power, makin ‘tidak efisien’ headphone tersebut.

Kennerton Odin termasuk headphone yang sangat efisien (impedance-nya hanya 35 ohm dan sensitivitas 104 dB), bahkan bisa dicolok langsung ke smartphone atau ke DAP.

* Catatan : Vali juga tergolong efisien (sensitivitas-nya 100 dB dan impedance 32 ohm)

c. Scalability (= seberapa jauh kemampuan sebuah Headphone bisa diangkat)

Odin + DAP adalah salah satu setup yang cukup sering dicoba oleh teman-teman audio, mungkin untuk membuktikan seberapa efisien Odin, dan seberapa bagus suara yang dihasilkan, walau hanya dengan setup yang minimal. Ini juga merupakan salah satu nilai lebih Odin, dengan setup direct pun sudah terasa kualitas suaranya.

Beberapa teman lainnya, mencoba Odin dengan Ampli Desktop. Tentu saja, SQ yang dihasilkan jauh lebih meningkat dibanding kalau hanya direct saja.

* Catatan : flagship headphone sebaiknya dipasangkan dengan desktop setup, agar SQ yang dihasilkan optimal

d. ‘Ramah ‘Amplifier

Berbicara mengenai flagship headphone, tentunya tidak bisa dipisahkan dari Amplifier.

Hal penting yang juga perlu diperhatikan sebelum memilih sebuah flagship headphone adalah, “apakah headphone ini ‘picky’ terhadap ampli ?”

Odin (sebagai sebuah flagship headphone) sama sekali tidak ‘ribet’ dalam urusan amplifier.

* Catatan : Odin sangat efisien dan memiliki tonal yang versatile, sehingga mudah dipasangkan dengan ampli ‘apapun’

e. Build Quality

Vali dilengkapi dengan driver yang menggunakan bahan yang sangat ringan (Bio-Cellulose Composite Diaphragm). Bahan ini didesain secara eksklusif oleh manufaktur yang sudah memperoleh banyak penghargaan, yaitu Peerless by Tymphany.

Baik Odin maupun Vali, sama-sama terbuat dari bahan-bahan yang berkualitas (bahkan ada beberapa tipe Odin yang terbuat dari kayu eksotik yang sangat langka).

Perusahaan dari Rusia ini juga masih mempertahankan produksi Headphone-nya menggunakan tangan (handcrafted).

Link : https://www.youtube.com/watch?v=hYjVeyP1Im8&feature=youtu.be

f. Valuable

Begitu banyak brand yang menawarkan Flagship Headphone-nya dengan rentang harga yang cukup jauh di atas Odin, namun tidak memiliki semua keunikan dan nilai lebih seperti yang dipunyai oleh Odin IMHO.

Kennerton juga masih memberi jaminan pelayanan garansi selama 3 tahun

Saya kira ‘nilai-nilai lebih’ inilah, yang membuat banyak teman-teman audio menyebut Odin sebagai “kuda hitam” 🙂

Kalau teman-teman sedang mencari flagship headphone planar yang unik dan valuable, Odin sangat layak dipertimbangkan IMHO.

Final Tips :

  • Mendengar langsung, merupakan cara terbaik untuk mengetahui kualitas dan karakter suara sebuah audio gear
  • Kalau belum ada kesempatan buat mendengar sendiri, kita bisa membaca sebanyak mungkin review dan bertanya kepada teman-teman yang pendapatnya terpercaya
  • Hype dan Review tidak bisa dijadikan acuan dalam menilai kualitas sebuah audio gear
  • Review berhubungan erat dengan Hype, karena itu kita perlu sangat teliti dalam memilih review, mana yang ‘proper’ dan mana yang tidak
  • IEM baiknya dipakai saat sedang mobile, sedangkan Headphone waktu berada di kantor / rumah
  • Secara SQ, saya kira sampai sekarang suara Flagship Headphone masih jauh lebih unggul dibanding Flagship IEM
  • Warm tidak sama dengan all-rounder. Ada sangat banyak Headphone yang karakter suaranya warm, tapi belum bisa disebut all-rounder. Tuning suara yang Balance adalah kuncinya IMO
  • Agar bisa mempresentasikan banyak genre dengan baik (versatile), sebuah headphone sebaiknya mempunyai bobot suara yang pas (tidak terlalu tebal dan tidak tipis). Tonal density yang seperti ini, tersaji dengan sangat baik di Odin
  • Odin sangatlah musical, dan memiliki resolusi yang bagus. Saya kira, perpaduan suara seperti ini cukup jarang ditemukan di flagship headphone lainnya
  • Kualitas Suara Odin masih bisa ‘diangkat’ lebih tinggi lagi. Makin bagus setupnya (DAC dan amplifier-nya), makin bagus pula SQ nya
  • Headphone Electrostatic mampu menyajikan timbre instrumen string (khususnya violin) dengan sangat baik. Bila teman-teman sangat senang dengan classical music, cobalah meluangkan waktu untuk mendengar headphone Electrostatic. Namun, perhatikan betul-betul Brand dan Tipe Headphone Electrostatic yang akan kita pilih .. ada yang hanya bagus untuk jenis musik tertentu saja (genre-nya terbatas), dan juga ada yang agak lebih all-rounder
  • Saat meng-audisi flagship headphone, pastikan mencobanya dengan setup yang proper (memakai desktop atau transportable amp) agar suaranya optimal (bukan direct ke Smartphone / DAP)
  • Ada beberapa flagship headphone yang sangat ‘pilih-pilih’ amplifier, carilah tahu apakah headphone TOTL yang ingin kita miliki termasuk picky ampli atau tidak

Flagship headphone menghasilkan SQ yang bagus? Saya kira, itu adalah suatu keharusan.

Akan tetapi, kalau ‘hanya’ bagus, hal apa yang membedakannya dengan flagship headphone lain?

Buat saya pribadi, (selain suara yang berkualitas) sebuah flagship headphone juga sebaiknya memiliki suara yang unik. Jangan sampai suaranya ‘mirip-mirip’ dengan flagship lain.

Mungkin, teman-teman bisa mengajukan pertanyaan ini pada diri sendiri (sebelum memilih sebuah flagship headphone), “seberapa valuable-kah flagship headphone ini?”

Setiap orang pasti mempunyai pendapatnya masing-masing, namun seandainya itu ditanyakan kepada saya, jawabannya adalah, “suaranya bagus dan unik”.

Ke-unik-an merupakan sesuatu yang ‘tidak bisa’ ditawar lagi.

Good and unique Sound Quality = Long Lasting

Audio gear yang valuable, bisa kita pakai selama bertahun-tahun. Makin unik, makin sulit pula mencari penggantinya.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Happy Weekend Folks !

Save the Best for Last !

“Hype dan Review bukanlah penentu Kualitas Suara sebuah audio gear”

– Hengky Irawan –

http://www.analoghead.com

http://www.instagram.com/analoghead_id

https://www.facebook.com/AnalogHeadStore

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s